Kamis, 11 Desember 2014

teori sastra



RINGKASAN BUKU BEBERAPA TEORI SASTRA, METODE KRITIK, DAN PENERAPANNYA
Penulis
Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo


Dosen Pengampu: Maharani Intan Andalas
        Bayu Aji Nugroho


Nama                      : Sumiyati
NIM                        : 2101413106
Rombel                   : 04



Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Semarang
2013
DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL................................................................................................................... 1
DAFTAR ISI................................................................................................................................ 2
1. MASALAH ANGKATAN DAN PENULISAN SEJARAH SASTRA................................. 4
    1. Masalah Angkatan................................................................................................................. 4
    2. Penulisan Sejarah Sastra Indonesia....................................................................................... 4
    3. Metode Estetika Resepsi dalam Penulisan Sejarah Sastra.................................................... 5
    4. Metode Perunutan Perkembangan Karya Sastra................................................................... 5
    5. Periode Sastra Indonesia....................................................................................................... 5
2. SEJARAH PUISI INDONESIA MODERN: SEBUAH IKHTISAR.................................... 7
    1. Periodesasi Puisi Indonesia Modern..................................................................................... 7
    2. Antalogi Puisi Indonesia Moden........................................................................................... 7
3. PERKEMBANGAN YANG DIALEKTIS DALAM KESUSASTRAAN INDONESIA  MODERN   8
4. PUSAT PENGISAHAN METODE ORANG PERTAMA DAN PERKEMBANGANNYA DALAM ROMAN DAN NOVEL INDONESIA MODERN.................................................................................... 10
    1. Pengertian Pusat Pengisahan dan Metode-metodenya......................................................... 10
5. KRIRIK SASTRA INDONESIA MODERN DAN PERMASALAHANNYA.................... 11
    1. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra.................................................................................................. 11
    2. Kritik Sastra Akademik dan Kritik Sastra Sastrawan........................................................... 11
6. KONKRETISASI SASTRA.................................................................................................... 12
    1. Analisi Struktural dan Semiotik sebagai Usaha Pemberian Makna Karya Sastra................. 12
    2. Intertekstualitas sebagai Sarana Pemberian Makna.............................................................. 12
    3. Pemberian Makna Berdasar Relevansi Latar Sosial-Budaya................................................ 12
    4. Pengarang/Penulis sebagai Pemberi Makna Sastra................................................................ 12
    5. Pembaca sebagai Pemberi Makna Sastra............................................................................... 12
7. PENELITIAN SASTRA DENGAN PENDEKATAN SEMIOTIK....................................... 13
    1. Pengertian Semiotik.............................................................................................................. 13
    2. Tanda: Penanda atau Petanda............................................................................................... 13
    3. Bahasa dan Sastra (Kesusastraan)......................................................................................... 13
    4. Metode Semiotik dalam Penelitian....................................................................................... 13
    5. Pembacaan Semiotik: Heuristik dan Hermeneutik atau Retrokatif...................................... 13
8. ANALISIS PUISI SECARA STRUKTURAL DAN SEMIOTIK......................................... 14
    1. Amalisis Struktural dan Semiotik.......................................................................................... 14
    2. Ketidaklangsungan Ekspresi Puisi........................................................................................ 14
    3. Hubungan Intertekstual........................................................................................................ 14
9. HUBUNGAN INTERTEKSTUAL DALAM SASTRA INDONESIA................................. 15
    1. Orientasi Sastra..................................................................................................................... 15
    2. Hubungan Intertekstual........................................................................................................ 15
    3. Hubungan Intertekstual Karya Sastra Prosa Indonesia........................................................ 15
    4. Hubungan Intertekstual dalam Puisi Indonesia Modern...................................................... 15
10.HUBUNGAN INTERTEKSTUAL ROMAN-ROMAN BALAI PUSTAKA DAN PUJANGGA BARU       16
    1. Hubungan Intertekstual Roman-roman Balai Pustaka.......................................................... 16
    2.Hubungan Intertekstual antara Siti Nurbaya, Layar Terkembang, dan Belenggu................. 16
11. ESTETIKA RESEPSI DAN TEORI PENERAPANNYA.................................................... 16
    1. Pengertian ............................................................................................................................ 18
    2. Dasar-Dasar Teori Estetika Resepsi...................................................................................... 18
12. TINJAUAN RESEPSI SASTRA BEBERAPA SAJAK CHAIRIL ANWAR...................... 19
    1. Kerangka Teori dan Metode Estetika Resepsi...................................................................... 19
    2. Resepsi terhadap Beberapa Sajak Chairil Anwar.................................................................. 19
    3. Resepsi terhadap Sajak “ Sebuah Kamar”............................................................................ 20
13. TANGGAPAN PEMBACA TERHADAP BELENGGU..................................................... 21





































1.     Masalah Angkatan dan Penulisan Sejarah Sastra Indonesia



1.     Masalah Angkatan

Sejarah sastra merupakan salah satu cabang studi sastra yang oleh Rene Wellek (1968: 39) di pecah menjadi tiga:
·        teori sastra
·        kritik sastra
·        dan sejarah sastra
Teori sastra adalah studi sastra yang berhubungan dengan karya sastra yang konkret, sedang sejarah sastra adalah studi sastra yang membicarakan perkembangan saastra sejak lahirnya sampai perkembangannya yang terakhir ( pradopo, 1967: 9; Wellek, 1968: 255).Begitu jugalah sejarah sastra Indonesia.
Sastra (kesusastraan) suatu bangsa dari waktu ke waktu selalu mengalami perkembangan, begitu juga halnya kesusastraan indonesia. Angkatan sastra tak lain adalah sekumpulan sastrawan yang hidup dalam satu kurun masa atau menempati suatu periode tertentu. Karena mereka hidup dalam kurun masa yang sama atau periode tertentu itu, tentulah ada saling pengaruh hingga mereka mempunyai ide, gagasan, atau semangat yang sama atau setidak-tidaknya ada kemiripannya.
Ciri-ciri intrinsik karya sastra yang menjadi dasar penentuan adanya sebuah angkatan, berupa ciri-ciri yang terdapat dalam karya sastra secara konkret.Ciri-ciri tersebut meliputi jenis sastranya (genre), pikiran, perasaan, gaya bahasa, gaya penceritaan, dan struktur karya sastra yang meliputi struktur penceritaan (alur), penokohan, latar, begitu juga sarana-sarana sastranya (literary devices) seperti pusat pengisahan, simbol, humor, pembayangan, suspense, dan sebagainya.Ciri-ciri tersebut yang terdapat dalam cerita rekaan, sedang ciri-ciri dalam karya puisi meliputi: gaya bahasa, gaya sajak, pilihan kata, bahasa kiasan, citraan, sarana retorik, irama dan tak boleh dikesampingan juga ide, gagasan perasaan, tema da sebagainya. Bila dalam sekumpulan karya sastra yang terbit dalam suatu periode atau suatu kurun masa menunjukkan persamaan ciri-ciri intrinsik baik secara keseluruhan maupun sebagai ciri yang penting, maka dapatlah dikatakan bahwa ada (sudah ada) sebuah angkatan sastra yang hadir atau lahir.


2.      Penulisan Sejarah Sastra Indonesia

Penulisan sejarah sastra Indonesia dimulai dengan lahirnya, dan sebab-sebab lahirnya kesusastraan Indonesia tersebut.
Penulisan sejarah sastra Indonesia sesungguhnya dapat dilakukan dengan dua cara. Yang pertama, dengan cara teori estetik resepsi atau estetika tanggapan. Yang kedua, dengan cara teori penyusunan rangkaian perkembangan sastra dari periode ke periode atau dari angkatan ke angkatan.
Di samping itu, penulisan sejarah sastra Indonesia juga dapat dilakukan secara sinkronis dan diakronis.Secara sinkronis ialah membicarakan (menulis) sejarah sastra dalam salah satu tingkat perkembangannya atau salah satu periodenya, misalnya periode Angkatan 45 atau periode angkatan Pujangga Baru.Secara diakronis membicarakan (menulis) sejarah sastra dalam berbagai tingkat perkembangannya, dari sejak lahir hingga perkembangannya yang terakhir.
Begitu juga, penulisan sjarah sastra Indonesia dapat dilakukan dari sudut tinjauan perkembangan jenis-jenis sastranya (genres), baik prosa maupun puisi. Misalnya saja sejarah novel Indonesia, atau perkembangan puisi Indonesia modern, bahan dapat di tulis sejarah perkembangan alur dalam cerkan sastra Indonesia, perkembangan diksi dan gaya bahasa puisi Indonesia, dan sebagainya.

3.      Metode Estetika Resepsi dalam Penulisan Sejarah Sastra

Dalam penulisan sejarah sastra brdasarkan teori estetika resepsi ini, diteliti tanggapan-tanggapan pembaca, konsep-konsep tentang sastra, norma-norma sastra, yang semuanya itu menentukan penilaiannya terhadap sebuah karya sastra atau karya-karya sastra pada umumnya. Para pembaca yang dimaksudkan dalam hubungan ini ialah para pembaca yang ahli, yang dapat dianggap sebagai wakil dari tiap-tiap peiode. Para pembaca ahli ini dikemukakan oleh vodika (1964: 78) adalah para ahli sejarah sastra, ahli estetika, dan para kritikus sastra.
Dalam kesusastraan Indonesia, karya-karya sastra dari sejak Balai Pustaka sampai sekarang selalu mendapat tanggapan pembaca. Tanggapan pembaca selalu berubah. Hal ini di sebabkan seperti di atas, oleh perbedaan cakrawala harapan yang ditentukan oleh konsep-konsep sastra setiap periode.
Jadi, menurut teori estetika resepsi ini, sejarah sastra itu adalah sejarah karya sastra dari periode ke periode atau sejarah resepsi sastra dari periode ke periode.


4.      Metode Perunutan Perkembngan Karya Sastra

Metode penyusunan sejarah sastra yang kedua adalah perunutan perkembangan karya sastra yang disusun dalam kelompok-kelompok besar atau kecil, sesuai dengan kepengarangan atau jenis-jenis sastra (genre), tipe-tipe gaya, atau tradisi kebahasaan (Wellek, 1968: 255)
Penyusunan sejarah sastra bukanlah hanya penderetan pembicaraan karya-karya sastra yang terbit sewaktu disusun secara kronologis atau berdasarkan urutan waktu terbitnya semata-mata. Penyusunan sejarah sastra harus sekaligus bersifat sejarah dan sastra ( Wellek, 1968: 252), dalam arti harus berdasar urutan waktu dan perkembangan ciri-ciri intrinsik sastranya.
Dalam menyusun sejarah sastra itu diperlukan bantuan kritik sastra, diperlukn prinsip-prinsip kritik sastra, untuk menentukan karya sastra bernilai ( sastra ) atau tidaak, menunjukkan perkembangan nilai dan ciri-cirinya atau tidak.



5.      Periode Sastra Indonesia

Sampai sekarang para tokoh sastra Idonesia yang membuat periodesasi diantaranya H. B Jassin, Boejoeng Saleh, Nugroho Noto Susanto, Bakri Siregar, dan Ajip Rosidi. Pada umumnya periodesasi mereka menunjukkan persamaan pada garis besarnya. Namun ada perbedaan kecil-kecilan juga, yaitu mengenai batas-batas waktu setiap periode dan penekanan ciri-cirinya, maka gambaran sesungguhnya periode-periode sejarah sastra Indonesia bertumpang tindih sebagi berikut.
1.      Periode Balai Pustaka : 1920-1940
2.      Periode Pujangga Baru: 1930-1945
3.      Periode Angkataan 45: 1940-1955
4.      Periode Angkatan 50: 1950-1970
5.      Periode Angkatan  70: 1965-Sekarang (1984)

apresiasi novel

6f9e132ebeddb9f71b114f211e5db131

Apresiasi Prosa

Analisis Novel “ Kubah “
Karya, Ahmad Tohari



Dosen Pengampu:
Wati Istanti


Nama                      : Sumiyati
NIM                                    : 2101413106
Rombel                   : 04




Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Semarang
2014
Sinopsis Novel “ Kubah “

Novel Kubah menceritakan tentang seorang tokoh yang bernama Karman yang ditahan di pulau Buru karena terjerumus ke jalan yang salah ketika menjadi aktivis politik.
Setelah dua belas tahun hidup di pulau buangan, akhirnya Karman dibebaskan. Pada hari pertama dinyatakan menjadi orang bebas, Karman malah merasa bingung mau pulang kemana. Ia merasa ragu untuk pulang ke kampung halamannya, Pegaten. Ia takut jika nanti orang-orang kampung tidak mau menerimanya. Dari depan gedung Kodim, Karman berjalan hingga akhirnya dia menemukan sebuah tempat yang enak untuk beristirahat, Karman duduk di bawah pohon beringin. Di bawah pohon beringin tersebut Karman mulai melamun, yang menguasai seluruh lamunan Karman adalah Parta, seorang teman sekampung. Tujuh tahun yang lalu, ketika Karman masih menjadi penghuni pulau buangan, Parta mengawini Marni. Marni adalah istri Karman, walaupun sudah memiliki tiga orang anak, Marni memang masih kelihatan cantik. Setelah mendengar kabar bahwa istrinya akan menikah dengan Parta, Karman hanya bisa diam, merenung dan merenung. Setiap hari jiwa dan raga Karman bertambah rapuh hingga akhirnya Karman jatuh sakit.
Angin yang menembus sela-sela kerimbunan pohon beringin menimbulkan sebutir buah beringin runtuh dan menimpa pundak Karman. Karman yang sedang larut dalam kenangan ketika terbuang di pulau Buru, tersadar,  kemudian melangkahkan kakinya berjalan ke rumah Gono, saudara sepupunya. Di rumah Gono Karman bertemu dengan anaknya, Rudio. Sejak ibunya menikah dengan Parta,  Rudio tinggal bersama pamannya. Adiknya, Tini, tinggal bersama ibunya. Sedangkan Tono meninggal dunia.
Tini hampir tujuh belas tahun, dan saat ini Tini berhubungan dengan Jabir. Jabir adalah cucu dari Haji Bakir.
Sewaktu masih kecil, sepeniggal ayahnya, Karman hidup hanya hidup dengan ibu dan seorang adik perempuan. Keadaan keluarga Karman sangat menyedihkan, ia sering kelaparan. Hingga dua tahun lamanya Karman hidupdengan singkong. Hanya sesekali ia menemukan nasi, itupun bila dia punya kesempatan main dengan Rifah, anak bungsu Haji Bakir. Hari-hari selanjutnya Karman mendapatkan perhatian yang cukup dari keluarga Haji Bakir. Selalu ada pekerjaan kecil-kecilan yang bisa dikerjakan. Karman juga sering bermain dengan Rifah. Maka wajar bila Rifah adalah nama pertama yang terbaca di hati Karman ketika ia merasa sudah menjadi lelaki dewasa. Sayangnya ada satu hal yang membuat Karman kecewa, Rifah sudah dilamar oleh pemuda lain. Calon suami Rifah sudah ditentukan oleh keluarga Haji Bakir. Sejak saat itulah Karman menjadi benci degan keluarga Haji Bakir dan akhirnya pada saat terjadi pemberontakan pada bulan September 1948 dia bergabung menjadi anggota partai dan menjadi aktivis poitik. Hingga akhirnya Karman menikah dengan Marni. Sedang kan Rifah menjadi janda karena suaminya meninggal dunia. Rifah dikaruniai seorang anak yang bernama Jabir, pemuda yang saat ini berhubungan dengan Tini.
Tini dan Jabir keluar dari rumah Bu Mantri. Merek baru menjemput Karman dari kota. Ayah Tini yang baru pulan dari pulau Buru itu sekarang berada di rumah Bu Mantri, nenek Tini.
Di rumah orangtuanya Karman sedang dirubung oleh para tamu, tetanga-tetangga yang sudah amat lama ditinggalkan. Ia merasa heran dan terharu, ternyata orng-orang Pegaten tetap baik padanya. Apabila Karman menyambut tamu-tamu yang lain secara wajar, tidak demikian halnya ketika ia menerima kedatangan Haji Bakir. Begitu Haji Bakir masuk ke rumah Bu Mantri, Karman berlari menjemputnya, lalu menjatuhkan diri dan meminta maaf kepada Haji Bakir atas perbuatannya yang dulu.
Setelah beberapa bulan Karman telah berbaur kembali dengan kehidupan di Pegaten.ada sebuah berita yang makin lama makin santer diterima Karman. Tini, anaknya akan dilamar oleh Jabir. Keluarga Tini diminta oleh Haji Bakir berkumpul di rumah Bu Mantri. Haji Bakir melangsungkan lamaran di rumah Bu Mantri, dan akhirnya Jabir dan Tinipun menikah.
Kini Karman sudah menjadi besan Haji Bakir, Karman sungguh tidak lagi bisa melihat sesuatu pada Haji Bakir yang membuatnya pantas dibenci.
Masjid Haji Bakir makin tua seperti usia pemiliknya. Temboknya rapuh dan tampak retak-retak disana sini. Para jamaah sepakat hendak memugar masjid itu. Karman menyanggupi membuat kubah yang baru untuk masjid itu. Ketika kubah itu sudah jadi, banyak warga yang memuji kebagusan kubah masjid yang dibuat oleh Karman. Karman merasa senang akhirnya dia bisa membalas kebaikan Haji Bakir yang dulu pernah membantunya.








Analisis Unsur Pembangun Karya Sastra

Unsur Intrinsik:

a.      Fakta Cerita

1.      Alur
Alur yang digunakan dalam novel Kubah adalah alur campuran. Hal ini disebabkan karena adanya alur maju, alur mundur, kemudian kembali ke alur maju lagi. Bukti dari adanya alur campuran adalah:
a.       Alur maju
Ketika Karman keluar dari tahanan dan ia bingung mau pulang kemana.
“ Dia tampak amat canggung dan gamang. Gerak-geriknya serbakikuk sehingga mengundang rasa kasihan. Kepada Komandan Karman membungkuk berlebihan...” ( Kubah: 5)
b.      Alur mundur
Ketika menceritakan kisah Karman dari sejak kecil hingga dewasa dan akhirnya ditahan di pulau buangan karena terjerumus dalam dunia politik.
“ sepeninggalan ayahnya, Karman hidup hanya dengan ibu dan seorang adik perempuan yang masih kecil...” ( Kubah: 61)
“ ...Karman ditangkap dalam keadaan sakit payah. Boleh jadi karena keadaannya itulah orang tidak tega menghabisi nyawanya “ ( Kubah: 185)
c.       Alur maju
Ketika Tini menikah dengan Jabir dan Karman akhirnya sudah bisa berbaur kembali dengan massyarakat Pegaten. Kemudian Karman membuatkan Kubah masjid milik Haji Bakir.
“ setelah semua tamu pergi, Karman tidak segera masuk ke kamar tidur. Ia duduk seorang diri dengan perasaan galau. Karman merasa senang karena anak gadisnya akan menikah dengan perjaka dari keluarga baik-baik...” ( Kubah: 206 )
“ tanpa membentuk sebuah panitia, pekerjaan itu dimulai. Semua orang mendapat bagian menurut kecakapan masing-masing. Karman memberanikan diri meminta bagiannya. Ia menyanggupi membuat kubah yang baru bila tersedia bahan dan perkakasnya...” ( Kubah: 208 )

Tahapan-tahapan alurnya adalah:
Ø  Perkenalan
Perkenalan dimulai dari perkenalan tokoh Karman yang mengalami konflik batin karena dia merasa rendah diri dihadapan masyarakat. Hal ini disebabkan karena ia adalah mantan tahanan politik di Pulau Buru.
Dia tampak amat canggung dan gamang. Gerak-geriknya serba kikuk sehingga mengundang rasa kasihan. Kepada komandan, Karman membungkuk berlebihan. Kemudian dia mundur beberapa langkah, lalu berbalik...” ( Kubah: 5 )
Ø  Konflik
Dalam Novel Kubah terdapat beberapa konflik, yaitu kehidupan Karman yang susah sejak sepeninggal ayahnya, ketika Karman mulai tertarik pada Rifah, dan ketika Marni memutuskan untuk menikah lagi.
            Keadaan hidup Karman setelah ayahnya meninggal:
“Sepeninggal ayahnya, Karman hidup dengan ibu dan seorang adik perempuan yang masih kecil. Sebenarnya Karman punya dua kakak lelaki. Tetapi keduanya meninggal dalam bencana kelaparan pada zaman penjajahan Jepang. Keadaan keluarga Karman amat menyedihkan...” ( Kubah: 61 )
            Karman tumbuh dewasa dan mulai tertarik dengan Rifah.
“ ...maka wajar bila Rifah adalah nama pertama yang terbaca di hati Karman ketika ia merasa sudah menjadi lelaki dewasa.” ( Kubah: 83 )
            Marni memutuskan untuk menikah lagi dengan Parta ketika Karman berada di pulau Buru.
“Yang sedang menguasai seluruh lamunan Karman adalah Parta, seorang teman sekampung. Tujuh tahun yang lalu, ketika Karman masih menjadi penghuni pulau buangan, Parta menceraikan istrinya dan kemudian mengawini Marni...” (Kubah: 11)
Ø  Komplikasi
Ketika Karman mulai tertarik kepada Rifah dan bermaksud memperistri Rifah,tetapi lamaran Karman ditolak oleh Haji Bakir karena Rifah sudah dilamar oleh pemuda lain. Sehingga membuat Karman menjadi benci kepada Haji Bakir.
“Bahkan Karman pun merasa punya alasan untuk berharap karena sifat Rifah yang tetap hangat. Kemanjaannya terhadap Karman tak berubah seperti ketika keduanya masih suka bermain baling-baling yang terbuat dari daun kelapa...” ( Kubah: 83 )

Ø  Klimaks
Pada novel ini, klimaks terjadi pada saat pemberontakan Karman terhadap Haji Bakir sudah memuncak. Hingga akhirnya Karman bergabung dengan Margo menjadi seorang aktivis politik.
“Hanya setahun  sejak perkenalannya dengan kelompok Margo, perubahan besar terjadi pada diri Karman.ia menjadi sinis. Segala sesuatu apalagi yang menyangkut Haji Bakir selalu ditanggapi dengan prasangka buruk...” ( Kubah:103 )
Ø  Antiklimaks
Antiklimaks dalam novel ini adalah tertangkapnya Karman dalam keadaan sakit parah.
“Dan tamat sudah kisah pelariannya, karena sorang gembala kerbau melihat segala gerak-geriknya. Di siang itu beberapa orang pamong desa datang ke Astana Lopajang. Karman ditangkap dalam keadaan sakit payah. Boleh jadi karena keadaannya itulah orang tak tega menghabisi nyawanya.” (Kubah : 184-185)
Ø  Resolusi
Tahap  ini menceritakan tentang Karman yang merasa dirinya hidup kembali dan diterima oleh warga Pegaten.
“ Karman sungguh-sungguh telah berbaur kembali dengan tiap gerak kehidupan di
Pegaten...” ( Kubah: 199)
Ø  Selesaian
Karman membuatkan Kubah yang indah untuk masjid Haji Bakir. Dia mendapat pujian dari masyarakat Pegaten karena berhasil membuat kubah yang luar biasa bagusnya.
“Tetapi Karman menganggap pekerjaan membuat kubah itu sebagai kesempatan yang istimewa. Se-sen pun ia tak mengharapkan upah. Bahkan dengan menyanggupi pekerjaan itu ia hanya ingin memberi jasa...” ( Kubah:209 )
“Karman mendengar pujian-pujian itu. Rasanya dia yakin bahwa dirinya tidak berhak menerima semua pujian itu. Tetapi wajah-wajah orang Pegaten yang berhias senyum, sikap mereka yang makin ramah, membuat Karman merasa sangat bahagia...”
( Kubah: 211 )

Selasa, 02 Desember 2014

puisi

kerinduan

setumpuk uang
setumpuk berlian
setumpuk kemewahan
takkan membuat tubuh ini terus berdiri disini
ia juga ingin kembali
kembali bukan karena uang
tapi kembali untuk mengobati kerinduan




merpati

dua bulan engkau hidup di sarang
hidup tentram walau tanpa pasangan
hari-harimu pun selalu riang

tapi sayang
merpati kini telah terbang
terbang meninggalkan sarang
demi mencari pengalaman di negeri seberang
tuk menuju hidup ke depan

merpati
sarangmu akan selalu menanti
menanti engkau datang kembali
membawa ilmu yang telah kau dapati
sebagai bekal kehidupan nanti
agar hidupmu lebih baik lagi

cerpen-cerpen

Cerpen bertema sosial
Ibu, maafkan aku!
Siang ini langit telah mendung, matahari tak lagi menampakkan sinarnya. Suasana tersebut telah menyentuh hati Lusi yang saat itu sedang sedih. Hatinya menangis, ia sangat merindukan kasih sayang dari orang tuanya tapi dia sama sekali tidak tahu tentang orang tua kandungnya, ia hanya tinggal bersama orang tua angkatnya yang sangat menyayanginya. Dan yang memprihatinkan lagi adalah dia selalu diejek teman-temannya karena memiliki ibu yang miskin, tua, hitam, jelek, dan bungkuk. Bahkan pernah hampir satu minggu Lusi tidak berangkat sekolah karena malu dan merasa dikucilkan oleh teman-temannya.
“ Lusi, kenapa kamu menangis nak ? “ tanya ibu angkatnya.
“ tidak apa-apa bu,”
“ Lusi, ayolah cerita sama ibu, kamu kenapa nak ? apa teman-temanmu masih selalu mengejekmu ? apa perlu ibu memindahkan kamu ke sekolah lain ?”
“ nggak perlu bu, mau berapa kalipun Lusi pindah sekolah tetap saja Lusi akan dihina teman-teman Lusi  bu, karena Lusi punya orang tua kayak ibu. Coba saja kalau Lusi tinggal bersama orang tua kandung Lusi pasti Lusi nggak akan semenderita ini. “
“ maafkan ibu nak, ibu tahu ibu bukan orang tua yang baik untuk kamu, tapi ibu sangat sayang sama kamu nak, ibu nggak mau melihatmu sedih begini nak,”
“ kalau ibu nggak mau melihat Lusi sedih, tolong bantu Lusi cari tahu siapa orang tua kandung Lusi bu.”
“ suatu saat kamu akan tahu siapa orang tua kandungmu nak, “
“iya, tapi sampai kapan bu, Lusi sudah nggak tahan dengan keadaan ini. Udah bu, lebih baik ibu pergi dari kamar Lusi, Lusi mau sendiri bu.”

            Hari sudah mulai gelap, tetapi Lusi tetap saja melamun sambil menangis. Dia harus bertanya-tanya dalam hati. Siapa, bagaimana dan dimana sekarang orangtuanya berada. Malam pun semakin larut, Lusi merebahkan badannya di tempat tidur, matanya seolah-olah tidak bisa terpejam akibat masalah yang dipikirkan.
            Hari sudah mulai pagi, pagi yang sangat cerah, kicauan burung pun bersahut-sahutan. Namun Lusi tetap saja gelisah. “ Tuhan, apa yang harus hamba lakukan, hamba ingin seali bertemu dengan orang tua kandung hamba “ pintanya dalam hati.
“ Lusi... bangun nak, ibu sudah masak untuk sarapanmu“ panggil ibunya sambil mengetuk pintu kamar Lusi.
“ iya bu, bentar lagi Lusi juga bangun.”
            Lusi keluar kamar dan langsung pergi tanpa sarapan terlebih dahulu.
“ Lusi, kamu nggak sarapan dulu nak, ibu sudah masak makanan kesukaanmu “
“ Nggak perlu bu, Lusi mau langsung pergi”
            Lusi sebenarnya gadis baik, tapi ejekan teman-temannya yang telah membuatnya agak kecewa karena telah dirawat oleh ibu yang bungkuk dan jelek.

***
            Hari-hari telah berlalu, kini ibu angkat Lusi jatuh sakit. Dia hanya bisa berbaring di atas tempat tidur karena sakit yang dideritanya sangat parah. Dari kamar dia melihat Lusi keluar dengan membawa barang-barangnya.
“ Lusi..Lusi..” teriaknya sambil mencoba berusaha untuk bangun dan mengejar Lusi.
“ Lusi, tunggu dulu nak, kamu mau kemana?”
“apa lagi bu? Lusi mau pergi dari rumah ini, Lusi mau cari orang tua kandung Lusi, lagipula saat ini ibu sudah tidak bisa bekerja lagi. Lusi mau makan apa kalau terus-terusan tinggal di rumah ini”
“ Lusi dengarkan ibu dulu nak “ sambil memegang tangan Lusi.
“minggir bu, nggak usah pegang-pegang tangan Lusi”
Lusi mendorong ibunya hingga kepalanya terbentur ke lantai. Tanpa sengaja Lusi telah melukai ibunya, ia mendorong ibunya karena emosi.
“ ibu..” (Lusi merasa bersalah)
“ ibu nggak papa bu? Kepala ibu berdarah.”
“ Lusi, ibu sudah nggak kuat lagi nak. Ibu hanya mau bilang bahwa orang tua kandungmu adalah ibu. Ibu terpaksa berbohong karena ibu nggak mau kamu kecewa dan malu mempunyai ibu yang jelek dan bungkuk seperti ini.”
“ nggak, ibu pasti bohong. Orang tua kandung Lusi bukan ibu.”
“ ibu nggak bohong nak, punggung ibu yang bungkuk ini karena dulu ketika kamu masih bayi ibu berusaha melindungimu dari perampok nak, perampok itu memukuli ibu hingga punggung ibu bungkuk, dan bekas luka di muka ibu ini karena terkena pisau para perampok tersebut.”
“nggak..nggak mungkin, ini semua nggak mungkin” Lusi terkejut dengan pernyataan ibunya.
“ sekali lagi ma.. af.. kan i..   bu nak! (sambil menghembuskan nafas terakhir)
“ ibu ibu ibu, bangun bu...maafkan Lusi bu....”
“Ibu.....Lusi mohon bangun bu, jangan tinggalkan Lusi bu, Lusi sayang ibu”
“ibu........” (sambil menangis)

            Langit yang kini mendung telah menyentuh hati Lusi lagi, tapi kali ini Lusi bersedih bukan karena rindu dengan orang tua kandungnya, tapi ia sedih karena telah kehilangan ibu yang sangat menyayangi dan mencintainya dengan tulus.



Akhir Cerita Cinta Mery

Sore itu Nugroho dan Sus duduk di ruang tengah. Nugroho duduk santai sambil membaca koran sedangkan Sus membuat kopi untuk Nugroho.
Dari luar tedengar suara mobil Mery. Tak lama kemudian Mery masuk rumah. “ selamat sore mah.. pah..?
“ sore nduk..”
“ mah, pah, boleh nggak kalau liburan kali ini Mery berlibur ke rumah nenek yang ada di desa ?”
“ ya tentu saja boleh dong nak, iya kan pah? Tapi, ngomong-ngomong tumben kamu mau berlibur di desa. Memangnya kamu nggak ikut liburan sama teman-temanmu?”
“ Mery udah bosen mah, Mery pengen cari suasana baru di desa. Di desa kan udaranya sejuk, asri, dan yang paling penting tidak bising dengan suara-suara kendaraan seperti di kota, sehingga cocok untuk dijadikan tempat berlibur menghilangkan sress dengan tugas-tugas kuliah.”
“ ya wis terserah kamu lah nduk, kalau gitu besok mamah sama papah antar kamu ke sana ya, sekalian mamah mau jenguk nenekmu. Udah lama mamah nggak datang ke sana.”
“ oke mah, ya udah Mery ke kamar dulu ya mah”
            Hari sudah mulai pagi, matahari bersinar cerah, secerah hati Mery yang saat ini sedang bahagia karena hari ini dia akan berlibur ke rumah neneknya.
“Mer, kamu udah siap belum ? papah udah nunggu di depan.”
“iya mah, Mery bentar lagi selesai kok”
            Mery keluar dengan membawa barang-barang yang ia butuhkan.
“ udah siap Mer ?”
“ iya udah mah, ayo kita berangkat sekarang”
            Kurang lebih sekitar tiga jam perjalanan mereka menuju ke rumah nenek. Setelah sampai di rumah nenek, mereka bercakap-cakap sebentar membicarakan mengenai masa lalu Mery ketika masih kecil yang masih lucu dan imut, serta cengeng.
Tak terasa hari mulai sore, Nugroho dan Sus pamit untuk pulang.
“lho kok pulang sekarang nduk, kamu ndak mau nginep di sini dulu  ?
“nggak bu, mas Nugroho kan besok harus kerja, lain kali saja nggih bu. Sus nitip Mery saja ya bu”
“ Nugroho juga pamit ya bu” sambil bersalaman dan mencium tangan mertuanya.
“ya wis kalau begitu kalian seng ati-ati ya, jangan ngebut-ngebut”
“injih bu, kami pamit dulu bu”
***
            Hari-hari telah berlalu. Mery hidup bahagia bersama neneknya. Selama ia tinggal di rumah neneknya, ia bertemu dengan seorang lelaki yang bernama Marijan. Marijan adalah pemuda desa yang rajin, ulet, dan tentunya sangat menyayangi Mery. Itu yang membuat Mery tergila-gila padanya.
            “assalamu’alaikum nek, Merynya ada?”
“wa’alaikum salam, oh kamu tho le, iya Mery ada di dalam. Ayo silahkan masuk le “
“mas Marijan!, sini mas masuk dulu biar Mery buatin minuman”
            Hampir setiap hari Marijan datang ke rumah neneknya Mery untuk menemui Mery. Baru kali ini Mery menemukan lelaki yang sangat menyayangi dan mencintainya dengan tulus. Semakin hari hubungan mereka semakin serius.
“mas, kamu serius kan sama aku?”
“ya tentu saja serius tho Mer, kamu adalah satu-satunya perempuan yang sangat mas sayangi”
“iya mas, Mery juga sangat menyayangi mas Marijan”
            Suatu hari, Nugroho dan Sus datang ke rumah nenek untuk menjenguk dan mengetahui keadaaan Mery. Tapi betapa terkejutnya Nugroho dan Sus setelah mendengar cerita nenek bahwa Mery berhubungan dengan Marijan.
            Nugroho tidak setuju jika Mery berhubungan dengan pemuda desa dan miskin karena keluarga mereka merupakan keturunan ningrat. Mereka tidak mau Mery berhubungan lebih jauh lagi dengan Marijan, sehingga mereka memaksa Mery untuk pulang dan meninggalkan Marijan. Awalnya Mery sempat menolak untuk berpisah dengan Marijan, tapi akhirnya ia mengikuti perintah orang tuanya.
            Sejak berpisah dengan Marijan Mery lebih sering murung dan berdiam diri di kamar. Nggak hanya itu, Mery juga nggak mau makan sehingga akhirnya ia menjadi sakit-sakitan. Sus tidak tega melihat keadaan anaknya, hingga akhirnya ia membujuk Nugroho untuk merestui hubungan Mery dan Marijan.
“pah, Mery adalah anak kita satu-satunya, memangnya papah mau kalau terjadi apa-apa sama Mery ? mamah nggak tega melihat keadaan Mery pah.”
“mah, udah ya, sampai kapanpun papah nggak mau menerima pemuda desa itu. Mau ditaruh mana muka papah kalau punya menantu miskin kayak Marijan mah.”
“oh, jadi papah lebih memilih harga diri papah daripada anak kandung papah sendiri?”
“ bukan gitu mah,,”
“udahlah pah, mamah kecewa sama papah.?
“ oke.. oke..besok papah akan mengundang Marijan ke sisni.”
            Pagi-pagi sekali Marijan datang ke rumah Mery. Wajah Mery yang semula murung sekarang kembali bersinar setelah bertemu dengan Marijan.
“mas, Mery kangen sekali dengan mas.”
“iya Mer, mas juga. Tapi ada sesuatu yang ingin mas omongin.”
“ada apa mas?”
“maafkan mas Mer, mas sudah nggak bisa lagi melanjutkan hubungan ini Mer.”
“tapi kenapa mas? Mery salah apa? Apa ini karena orang tua Mery yang menyuruh mas ninggalin Mery ?”
“nggak Mer, ini nggak ada hubungannya dengan orang tuamu Mer.”
“ini semua karena mas sudah dijodohin dengan wanita pilihan ibu Mer.”
“nggak mungkin mas, jadi mas Marijan lebih memili wanita itu daripada Mery?”
“maafkan mas Mer.”
            Sejak saat itu Mery menjadi benci dengan Marijan. Ia tak menyangka bahwa lelaki yang sangat ia sayangi telah mengecewakannya, dan sejak saat itu ia sudah tidak percaya dengan yang namanya lelaki.
            Tapi semuanya berubah setelah ia mendapatkan surat yang katanya dari Marijan.
Dear Mery,
Mungkin ketika kamu membaca surat ini aku sudah tidak ada. Tapi dari tempatku berada aku yakin aku bisa melihat engkau tersenyum walaupun aku tak bisa menyentuhmu lagi. Penyakit itu begitu cepat menggerogoti tubuhku Mer. Aku nggak mau kamu tahu tentang keadaanku. Aku nggak mau melihatmu sedih. Dengan aku bilang bahwa aku akn menikah dengan perempuan lain kamu akan marah. Tapi lebih baik melihatmu marah daripada melihatmu sedih. Aku ingin pergi dengan tenang tanpa melihat airmatamu.
Maafkan aku karena aku meninggalkanmu Mer. Tapi sebenarnya aku tak pernah benar-benar melakukannya. Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu tapi justru menjadi abadi bersamamu.
Tetaplah tersenyum Mer!!!
Marijan,

            Seketika itu juga Mery meneteskan airmata setelah membaca surat dari Marijn tersebut.